PENGALAMAN WAKTU DI SMP

Cerita ini berawal dari ujian praktek membaca puisi di depan kelas. Saat itu aku masih belajar di SMP. Oiya perkenalkan namaku ISROI. Aku memang mempunyai sifat pemalu yang kadang mempermalukan diri sendiri. Aku tinggal dengan keluarga sederhana. Aku biasa membantu ibu di pasar setelah pulang sekolah. Jadi hari-hariku lebih banyak dihabiskan di pasar. hmm.Aku masih ingat sekali di saat pembagian tugas membacakan puisi bebas di depan kelas oleh Ibu Yeni, guru bahasa Indonesia. Aku mendapat giliran membaca puisi pada minggu depan. Berarti masih ada satu minggu untuk membuat puisi bebas. Sejujurnya aku pandai dalam merangkai kata kata indah. Namun aku tidak dengan mengungkapkannya secara langsung di depan kelas. Aku masih bingung dengan tema puisi yang akan aku bawakan nanti. Dan pada akhirnya satu minggu telah berlalu sedang aku belum menyiapkan puisi tersebut.
Tiba giliranku maju ke depan kelas untuk membacakan puisi. Ibu Yeni memanggil namaku. Aku berjalan gemetaran dengan wajah yang pucat pasi. Seiring dengan heningnya suasana kelas, keringat dinginku pun keluar dengan dahsyatnya. Tiba-tiba ibu Yeni bertanya padaku,”Ilham, apa tema puisi yang akan kamu bacakan?”. Aku tertunduk malu. “Ilham, kamu belum membuatnya ya?”, Ibu Yeni bertanya kembali. “Iya, bu. saya minta maaf, karena saya benar-benar bingung untuk menuliskannya di buku”. “Kalau kamu bingung menulis di buku, kenapa kamu tidak menuliskannya di papan tulis saja?”. Tanya bu Yeni disambut dengan gelak tawa teman-teman. Kemudian bu Yeni memberikan spidol kepadaku dan menyuruhku menulis puisi di papan tulis. Dengan menahan malu aku pun menuliskan puisi dengan gemetaran.
Setelah selesai menulis puisi, akupun langsung beranjak untuk duduk kembali. Tiba-tiba ibu Yeni memanggilku,”ISROI..”. Sambil mengulurkan tangan. Tanpa pikir panjang, akupun langsung menjabat tangan bu Yeni sambil mengucapkan terima kasih. Namun ibu Yeni langsung bilang,”Bukan jabat tangan yang ibu inginkan, tapi spidol ibu masih kamu bawa, ham”. Sontak seisi kelas tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan ibu Yeni. Aku pun langsung mengembalikan spidolnya sambil menahan rasa malu.



Comments